Teduh di Warung Kayu
Bintang18 main
Langit mulai meredup abu Angin bawa wangi debu Aku duduk di gubuk tua Menunggu hujan menyapa jiwa Sawah ini saksi bisu Tentang lelah yang tak mengeluh Gemericik air di parit kecil Mengingatkanku pada hal mungil Tentang hidup yang bersahaja Tanpa perlu banyak bicara Kakek pernah berbisik pelan Di antara asap lintingan Bahwa hidup ini hanyalah soal Merasa cukup tanpa sesal Kota mungkin ajarkan berlari Tapi di sini kita menari Dalam syukur yang paling sunyi Cukup itu ada di hati Bukan pada yang kita miliki Bau tanah basah mulai tercium Burung gereja tak lagi ranum Ada bekas cangkul di tanah liat Tanda bakti yang paling giat Tak ada ambisi yang memburu Hanya damai yang selalu baru Gemericik air di parit kecil Mengingatkanku pada hal mungil Tentang hidup yang bersahaja Tanpa perlu banyak bicara Kakek pernah berbisik pelan Di antara asap lintingan Bahwa hidup ini hanyalah soal Merasa cukup tanpa sesal Kota mungkin ajarkan berlari Tapi di sini kita menari Dalam syukur yang paling sunyi Gedung tinggi mencakar mimpi Lupa cara untuk berhenti Namun di sini di tepi pematang Bahagia datang tanpa diundang Tak perlu emas untuk tenang Cukup teduh saat petang datang Legawa dalam doa Tenang dalam jiwa Kakek pernah berbisik pelan Di antara asap lintingan Bahwa hidup ini hanyalah soal Merasa cukup tanpa sesal Kota mungkin ajarkan berlari Tapi di sini kita menari Dalam syukur yang paling sunyi Cukup itu ada di hati Bukan pada yang kita miliki
Memuatkan…