akustik folk

Teduh di Warung Kayu

Bintang

18 plays · 0 favorites · 5:41

Lyrics

Cangkul kusandarkan di pagar bambu
Sisa tanah menempel di ujung kuku
Gerimis tipis menyapa bahu
Langkah kecil menuju warung kayu

Asap tungku mengepul perlahan
Wangi kayu bakar membawa ketenangan
Kuseka peluh di dahi yang lelah
Menikmati sore yang mulai memerah

Segelas kopi hitam mengepul hangat
Mengusir gigil dan penat yang sangat
Bau tanah basah menusuk sukma
Segala gelisah kini telah sirna

Di sudut bangku kakek tua menyapa
Tersenyum tulus tanpa ada hampa
Ia bicara tentang arti sebuah jalan
Tentang hidup yang penuh dengan pilihan

Pulang tak selalu tentang pintu dan atap
Bukan sekadar tempat lelap menatap
Ia adalah rasa yang menetap di kalbu
Seperti aroma tanah saat hujan bertemu

Tenang di sini
Damai di hati
Tak ada lagi yang perlu kucari
Semua sudah cukup di hari ini

Kakek berkata dengan suara rendah
"Jangan kau paksa hidup yang sudah indah"
"Pulanglah pada dirimu yang paling jujur"
"Sebelum malam membuatmu tersungkur"

Aku terdiam menatap ampas kopi
Merenung dalam di tengah sepi
Kata-katanya sederhana namun dalam
Menjadi pelita di kala waktu temaram

Pulang tak selalu tentang pintu dan atap
Bukan sekadar tempat lelap menatap
Ia adalah rasa yang menetap di kalbu
Seperti aroma tanah saat hujan bertemu

Jangkrik mulai bernyanyi di balik semak
Lampu minyak berpijar, mulai merayap naik
Segelas kopi hitam, uapnya bergerak
Segala beban jiwa, kini terasa baik

Hujan mereda menyisakan sisa embun
Suasana desa terasa makin rukun
Tak ada sesal yang tertinggal di dada
Hanya syukur yang kini kian membara

Pulang tak selalu tentang pintu dan atap
Bukan sekadar tempat lelap menatap
Ia adalah rasa yang menetap di kalbu
Seperti aroma tanah saat hujan bertemu

Tenang di sini
Damai di hati
Tak ada lagi yang perlu kucari
Semua sudah cukup di hari ini

Comments (0)

0/500

Loading…

Related Tracks