Teduh di Warung Kayu
Bintang18 plays
Harum tanah basah memeluk sukma Gerimis telah reda di batas senja Duduk sendiri di teras kayu Menatap padi yang mulai melayu Angin berhembus membawa rindu Pada sebuah masa yang telah berlalu Bocah kecil berlari di pematang Mengejar capung yang terbang melayang Tawanya pecah membelah sepi Mengingatkanku pada janji hati Langkah yang ringan tanpa beban Menjadi cermin sebuah kenangan Teringat aku pada tuturmu Kakek tua yang dulu membimbingku Suaramu parau namun menenangkan Menghalau gundah dalam kebisingan Gagal itu bukan luka abadi Hanya cara bumi menguji diri Terimalah tanpa amarah di dada Seperti air mengalir ke muara Syukur ini seluas cakrawala Ooo... mengalir tenang Ooo... hati yang lapang Kau bilang hidup tak harus menang Kadang kita jatuh di jalan gersang Lihatlah hijau yang masih tersisa Tuhan tak pernah benar-benar lupa Setiap perih simpanlah rapi Menjadi pupuk di ladang hati Kini kusentuh dinginnya kayu Meresapi pesan di balik bayu Tak ada dendam pada sang waktu Semua mengalir menjadi satu Gagal itu bukan luka abadi Hanya cara bumi menguji diri Terimalah tanpa amarah di dada Seperti air mengalir ke muara Syukur ini seluas cakrawala Langit tak perlu berteriak biru Untuk membuktikan dia itu teduh Aku belajar dari diammu yang tulus Melepas beban yang terasa menghunus Kuterima takdir dengan halus Gagal itu bukan luka abadi Hanya cara bumi menguji diri Terimalah tanpa amarah di dada Seperti air mengalir ke muara Syukur ini seluas cakrawala Ooo... mengalir tenang Ooo... hati yang lapang Semua akan pulang
Loading…