Teduh di Pematang
Bintang75 воспр.
Cangkul kusandarkan di pagar bambu Sisa tanah menempel di ujung kuku Gerimis tipis menyapa bahu Langkah kecil menuju warung kayu Asap tungku mengepul perlahan Wangi kayu bakar membawa ketenangan Kuseka peluh di dahi yang lelah Menikmati sore yang mulai memerah Segelas kopi hitam mengepul hangat Mengusir gigil dan penat yang sangat Bau tanah basah menusuk sukma Segala gelisah kini telah sirna Di sudut bangku kakek tua menyapa Tersenyum tulus tanpa ada hampa Ia bicara tentang arti sebuah jalan Tentang hidup yang penuh dengan pilihan Pulang tak selalu tentang pintu dan atap Bukan sekadar tempat lelap menatap Ia adalah rasa yang menetap di kalbu Seperti aroma tanah saat hujan bertemu Tenang di sini Damai di hati Tak ada lagi yang perlu kucari Semua sudah cukup di hari ini Kakek berkata dengan suara rendah "Jangan kau paksa hidup yang sudah indah" "Pulanglah pada dirimu yang paling jujur" "Sebelum malam membuatmu tersungkur" Aku terdiam menatap ampas kopi Merenung dalam di tengah sepi Kata-katanya sederhana namun dalam Menjadi pelita di kala waktu temaram Pulang tak selalu tentang pintu dan atap Bukan sekadar tempat lelap menatap Ia adalah rasa yang menetap di kalbu Seperti aroma tanah saat hujan bertemu Jangkrik mulai bernyanyi di balik semak Lampu minyak berpijar, mulai merayap naik Segelas kopi hitam, uapnya bergerak Segala beban jiwa, kini terasa baik Hujan mereda menyisakan sisa embun Suasana desa terasa makin rukun Tak ada sesal yang tertinggal di dada Hanya syukur yang kini kian membara Pulang tak selalu tentang pintu dan atap Bukan sekadar tempat lelap menatap Ia adalah rasa yang menetap di kalbu Seperti aroma tanah saat hujan bertemu Tenang di sini Damai di hati Tak ada lagi yang perlu kucari Semua sudah cukup di hari ini
Загрузка…