Teduh di Pematang
Bintang75 reproduções
Kopi hitam sudah mendingin Teras kayu mulai berangin Daun kering jatuh ke tanah Masa lalu kembali singgah Aku duduk menatap kebun Di antara sisa-sisa embun Wangi tanah meresap dalam Menyapa jiwa yang pernah kelam Suara jangkrik mulai terdengar Di balik pohon yang kian tegar Hanya sepi yang menemani Di gubuk tua di pinggir kali Kursi rotanmu masih di sana Menghadap ke arah matahari Seolah engkau masih bicara Tentang indahnya hidup ini Kakek bilang bahagia itu sederhana Tak perlu lelah kau mengejarnya Ia ada di dalam doa yang tenang Di sela tawa yang tak kunjung hilang Seperti embun di ujung dahan Hadir tanpa perlu dipaksakan Syukur yang sunyi Di dalam hati Syukur yang murni Abadi di sini Teringat jemari yang kasar Nasihatmu begitu besar Katanya hidup bukan sekadar Tentang siapa yang paling tegar Atau siapa yang paling tenar Cukup jadi jiwa yang sabar Cajon berdetak mengikuti nadi Ukulele petikkan melodi Di gubuk ini aku mengerti Bahwa damai takkan terbeli Walau harta setinggi langit Hidup tanpa syukur terasa pahit Dunia sibuk mencari harta Lupa melihat yang paling nyata Kita terjebak di dalam karsa Hingga nurani menjadi buta Aku memilih diam di sini Menjaga api di dalam diri Terima kasih untuk petuahmu Terima kasih untuk waktu itu Kini aku kan terus melangkah Tanpa perlu merasa gelisah Kakek bilang bahagia itu sederhana Tak perlu lelah kau mengejarnya Ia ada di dalam doa yang tenang Di sela tawa yang tak kunjung hilang Seperti embun di ujung dahan Hadir tanpa perlu dipaksakan Tak perlu dikejar Biarkan ia memijar Tak perlu dikejar Hati kan berbinar
Carregando…