Teduh di Warung Kayu
Bintang18 main
Bus tua berhenti di tepi jalan Gerimis November turun perlahan Langkahku berat membawa beban Namun di sini semua dimaafkan Debu kota luruh di permukaan Menjadi doa yang tak terkatakan Bau tanah basah menyapa raga Segala luka kota tak lagi berharga Jendela kayu itu masih setia Menyambut rindu yang lama tertunda Lumut hijau di dinding tua Saksi bisu masa kecil yang mulia Aku pulang Membawa sisa kenang Di antara pematang Hati pun mulai tenang Hati pun mulai terang Secangkir jahe hangat di atas meja Asapnya menari di udara senja Nenek tersenyum tanpa banyak bicara Menghapus pedih yang dulu membara Rumah ini tak pernah berubah Meski langkahku sudah lelah Rumah ini tak pernah berubah Tempatku membasuh segala salah Hmm, pulang ke pangkuan Hmm, teduh dalam pelukan Dinding bambu yang mulai melapuk Suara jangkrik mulai saling mengetuk Rindu di dada kini mulai tunduk Di hadapan masa lalu aku bertekuk Sarung tua tersampir di bahu Menghalau dingin yang aku tahu Hanya di sini aku merasa utuh Tanpa perlu lagi merasa angkuh Waktu mungkin mencuri masa muda Membuat uban tumbuh di kepala Segala ambisi kini tak ada Hanya syukur yang tersisa di dada Dunia luar mungkin begitu riuh Memaksa jiwa untuk terus menjauh Namun jalan pulang selalu ampuh Menyembuhkan hati yang sempat rapuh Secangkir jahe hangat di atas meja Asapnya menari di udara senja Nenek tersenyum tanpa banyak bicara Menghapus pedih yang dulu membara Rumah ini tak pernah berubah Meski langkahku sudah lelah Rumah ini tak pernah berubah Tempatku membasuh segala salah Hmm, pulang ke pangkuan Hmm, teduh dalam pelukan
Memuatkan…