akustik folk

Pesan di Cangkir Dingin

Bintang

57 回再生 · 0 お気に入り · 4:33

歌詞

Kopi hitam sudah mendingin
Teras kayu mulai berangin
Daun kering jatuh ke tanah
Masa lalu kembali singgah
Aku duduk menatap kebun
Di antara sisa-sisa embun

Wangi tanah meresap dalam
Menyapa jiwa yang pernah kelam
Suara jangkrik mulai terdengar
Di balik pohon yang kian tegar
Hanya sepi yang menemani
Di gubuk tua di pinggir kali

Kursi rotanmu masih di sana
Menghadap ke arah matahari
Seolah engkau masih bicara
Tentang indahnya hidup ini

Kakek bilang bahagia itu sederhana
Tak perlu lelah kau mengejarnya
Ia ada di dalam doa yang tenang
Di sela tawa yang tak kunjung hilang
Seperti embun di ujung dahan
Hadir tanpa perlu dipaksakan

Syukur yang sunyi
Di dalam hati
Syukur yang murni
Abadi di sini

Teringat jemari yang kasar
Nasihatmu begitu besar
Katanya hidup bukan sekadar
Tentang siapa yang paling tegar
Atau siapa yang paling tenar
Cukup jadi jiwa yang sabar

Cajon berdetak mengikuti nadi
Ukulele petikkan melodi
Di gubuk ini aku mengerti
Bahwa damai takkan terbeli
Walau harta setinggi langit
Hidup tanpa syukur terasa pahit

Dunia sibuk mencari harta
Lupa melihat yang paling nyata
Kita terjebak di dalam karsa
Hingga nurani menjadi buta
Aku memilih diam di sini
Menjaga api di dalam diri

Terima kasih untuk petuahmu
Terima kasih untuk waktu itu
Kini aku kan terus melangkah
Tanpa perlu merasa gelisah

Kakek bilang bahagia itu sederhana
Tak perlu lelah kau mengejarnya
Ia ada di dalam doa yang tenang
Di sela tawa yang tak kunjung hilang
Seperti embun di ujung dahan
Hadir tanpa perlu dipaksakan

Tak perlu dikejar
Biarkan ia memijar
Tak perlu dikejar
Hati kan berbinar

コメント (0)

0/500

読み込み中…

おすすめ