Surat dari Abu
Bintang60 main
Gelas itu masih di sana Tiga minggu tak berpindah Ada noda cokelat tua Di pinggir porselen putih Aku belum ingin mencuci Biar sisa harimu abadi Debu tipis mulai datang Menghias meja yang tenang Apartemen ini sunyi Tapi tidak menyakiti Hanya ada rindu tipis Yang datang tanpa tangis Aku mulai mengerti Cara melepas yang berarti Terima kasih untuk hangatnya Di sudut sewa yang sederhana Kita pernah punya rumah Meski akhirnya berpisah Aku lega kau bahagia Di tempat baru yang ceria Semoga kopimu tetap nikmat Tanpa perlu aku yang memikat Denting sendok itu Masih terngiang merdu Mengetuk dinding gelas Dengan irama yang ikhlas Cajon berdetak pelan Seputar meja makan Dulu ada tawamu Di sela asap kopimu Kini hanya ada aku Dan kenangan yang membiru Lantai kayu ini saksi Kita pernah saling mengisi Angin masuk lewat celah Bawa aroma yang lelah Namun hati sudah lapang Menyambut senja yang datang Aku mulai mengerti Arti sebuah menepi Terima kasih untuk hangatnya Di sudut sewa yang sederhana Kita pernah punya rumah Meski akhirnya berpisah Aku lega kau bahagia Di tempat baru yang ceria Semoga kopimu tetap nikmat Tanpa perlu aku yang memikat Bukan sedih yang merajai Hanya syukur yang mengisi Pernah ada jejak kaki Di lantai kayu yang sunyi Semua sudah cukup Pintu sudah kututup Tanpa ada rasa benci Dalam ruang yang sepi ini Akhirnya kuangkat gelas Kubasuh dengan ikhlas Air mengalir deras Hapus semua yang membekas Satu piring satu sendok Kususun rapi di pojok Besok pagi akan berbeda Tanpa bayangmu yang ada Terima kasih untuk hangatnya Di sudut sewa yang sederhana Kita pernah punya rumah Meski akhirnya berpisah Aku lega kau bahagia Di tempat baru yang ceria Semoga kopimu tetap nikmat Tanpa perlu aku yang memikat Sudah cukup Sudah genap Rumah kecil kita Kini menetap di ingatan
Memuatkan…